16 Januari 2009

Hati-hati dengan Diare berdarah . . .

Ternyata di musim hujan tidak hanya ada musim banjir bagi beberapa wilayah di Jakarta dan sekitarnya, tetapi juga musim 'penyakit'. Salah satu penyakit yang terkadang timbul di musim hujan adalah diare. Diare yang dialami oleh ibu kali ini agak berbeda dengan diare pada umumnya. Mengapa? Diare yang dialami ini disertai dengan darah pada tinjanya. Wuih kok serem ya . . .
Setelah ke dokter dan menjelaskan semua yang dirasakan, ternyata ibu terkena disentri. Tapi, disentri ini nih masih sedikit ringan karena baru gejala saja. Gejalanya saja sudah bikin badan sakit dan mencret-mencret terus, bagaimana dengan yang 'beratnya'? (weleh-weleh) . . Kalau yang terkena disentri balita atau anak-anak bagaimana ya???
Ayo, kita kenali dan cari tahu tentang disentri ya . . .
Baca deh artikel yang disarikan dari media elektronik dan cetak tentang disentri berikut ini.

Disentri berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys (gangguan) dan enteron (usus), yang berarti radang usus yang menimbulkan gejala meluas, tinja berlendir dan bercampur darah. Gejala-gejala disentri antara lain

  • Buang air besar dengan tinja berdarah
  • Diare encer dengan volume sedikit
  • Buang air besar dengan tinja bercampur lendir
  • Nyeri saat buang air besar
Bakteri (dinamakan disentri basiler)
  • Shigella, penyebab disentri yang terpenting dan tersering (± 60% kasus disentri yang dirujuk serta hampir semua kasus disentri yang berat dan mengancam jiwa disebabkan oleh Shigella.
  • Escherichia coli enteroinvasif (EIEC)
  • Salmonella
  • Campylobacter jejuni, terutama pada bayi
Amoeba (dinamakan disentri amoeba), disebabkan Entamoeba hystolitica, lebih sering pada anak usia > 5 tahun.

Disentri basiler

  • Diare mendadak yang disertai darah dan lendir dalam tinja. Pada disentri shigellosis, pada permulaan sakit, bisa terdapat diare encer tanpa darah dalam 6-24 jam pertama, dan setelah 12-72 jam sesudah permulaan sakit, didapatkan darah dan lendir dalam tinja.
  • Panas tinggi (39,5 - 40 derajat Celcius).
  • Muntah-muntah.
  • Anoreksia.
  • Kram atau kejang pada perut dan sakit di anus saat BAB.
  • Kadang-kadang disertai dengan gejala menyerupai ensefalitis dan sepsis (kejang, sakit kepala, letargi, kaku kuduk, halusinasi).
Disentri amoeba
  • Diare disertai darah dan lendir dalam tinja.
  • Frekuensi BAB umumnya lebih sedikit daripada disentri basiler (≤10x/hari)
  • Sakit perut hebat (kolik)
  • Gejala konstitusional biasanya tidak ada (panas hanya ditemukan pada 1/3 kasus).
Dalam Media Litbang Kesehatan (2004) disebutkan, disentri merupakan sindrom atau kumpulan gejala penyakit yang muncul seperti diare berdarah, lendir dalam tinja, dan nyeri yang dipaksakan untuk mengeluarkan tinja. Mudahnya, diare berdarah dapat digunakan sebagai penanda kecurigaan terhadap disentri. Itu sebabnya, disentri dimasukkan ke dalam kelompok bloody diarhea atau diare berdarah.

Penyebab disentri di Indonesia adalah Shigella, Salmonella, Campylobacter jejuni, Escherichia coli, dan Entamoeba histolytica.

Disentri yang berat umumnya disebabkan oleh Shigella dysentery, kadang-kadang dapat juga disebabkan oleh Shigella flexneri, Salmonella, dan Enteroinvasive E.coli (EIEC). WHO menyebutkan bahwa sekitar 15 persen dari seluruh kejadian diare pada anak di bawah usia 5 tahun adalah disentri.

Hasil survei evaluasi di Indonesia pada tahun 1989-1990 juga menunjukkan angka kejadian yang sama. Disentri menjadi penyebab penting penyakit dan kematian yang berkaitan dengan diare.

Karena dampak disentri cukup berat, pada diare yang secara klinis dicurigai sebagai disentri basiler dapat diberikan antibiotika secara empiris untuk kuman Shigella, meskipun belum ada bukti biakan bakteri pada tinja. Tetapi harus diikuti oleh pemantauan klinis, yaitu pengobatan yang diberikan harus memberikan respon pada hari ketiga.

Bila dalam kurun waktu tersebut tidak terlihat perubahan berarti, harus dilakukan evaluasi, apakah disentri tersebut bukan disentri basiler, tetapi disentri amoeba atau kuman tersebut sudah resisten terhadap antibiotik yang diberikan sehingga perlu diganti.

Disentri harus segera diobati. Kalau tidak, akan membahayakan atau kemungkinan dapat terjadi komplikasi. Disentri cukup berat dapat terjadi pada bayi yang tidak mendapatkan asupan ASI dan pada anak dengan gizi yang kurang.

Pencegahan disentri dapat dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, yaitu menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Kebersihan diri dimulai dengan mencuci tangan. Bukan hanya tangan anak, tetapi juga orangtua serta pengasuh. Kuman yang terdapat pada tangan yang sudah menjamah ke berbagai tempat dapat dicegah melalui cuci tangan dengan sabun.

disarikan dari wikipedia dan kompas.

2 komentar:

  1. mau nanya, urgent bgt, mama ku udah mencret selama tiga bulan berturut-turut, udah sering masuk keluar rs, bahkan di rumah pun harus di infus gara2 mencret, kata dokter harus minum obat selama 6 bulan, karena ususnya yg brmasalah, tpi anehnya mencretnya jg sering disertai darah, kami bingung, harus kemana lagi, dokter nya cmn blg klo kehabisan cairan ya di infus, plzzzz di respon, siapa tau pernah denger jg kasus yg sama sprti mama sy, trims

    BalasHapus