21 Januari 2009

Ke pabrik Yakult nih . . .

Nah, ini setelah kita keliling pabrik Yakult. Lumayan dapat snack dan yakult gratis . . . ruangannya bersih boooo . . .
Kita lagi mejeng di lobinya pabrik Yakult . . . Bersih dan mengilap lho lantainya . . .
Ayo, kita jalan-jalan . . . Asyik kita mau ke pabrik Yakult . . . .
Hoore . . . libur kerja sebentar he he he
Weleh-weleh seneng banget nih . . .
Foto yang lain nanti ya, biasa internetnya lambrettta . . .

16 Januari 2009

Hati-hati dengan Diare berdarah . . .

Ternyata di musim hujan tidak hanya ada musim banjir bagi beberapa wilayah di Jakarta dan sekitarnya, tetapi juga musim 'penyakit'. Salah satu penyakit yang terkadang timbul di musim hujan adalah diare. Diare yang dialami oleh ibu kali ini agak berbeda dengan diare pada umumnya. Mengapa? Diare yang dialami ini disertai dengan darah pada tinjanya. Wuih kok serem ya . . .
Setelah ke dokter dan menjelaskan semua yang dirasakan, ternyata ibu terkena disentri. Tapi, disentri ini nih masih sedikit ringan karena baru gejala saja. Gejalanya saja sudah bikin badan sakit dan mencret-mencret terus, bagaimana dengan yang 'beratnya'? (weleh-weleh) . . Kalau yang terkena disentri balita atau anak-anak bagaimana ya???
Ayo, kita kenali dan cari tahu tentang disentri ya . . .
Baca deh artikel yang disarikan dari media elektronik dan cetak tentang disentri berikut ini.

Disentri berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys (gangguan) dan enteron (usus), yang berarti radang usus yang menimbulkan gejala meluas, tinja berlendir dan bercampur darah. Gejala-gejala disentri antara lain

  • Buang air besar dengan tinja berdarah
  • Diare encer dengan volume sedikit
  • Buang air besar dengan tinja bercampur lendir
  • Nyeri saat buang air besar
Bakteri (dinamakan disentri basiler)
  • Shigella, penyebab disentri yang terpenting dan tersering (± 60% kasus disentri yang dirujuk serta hampir semua kasus disentri yang berat dan mengancam jiwa disebabkan oleh Shigella.
  • Escherichia coli enteroinvasif (EIEC)
  • Salmonella
  • Campylobacter jejuni, terutama pada bayi
Amoeba (dinamakan disentri amoeba), disebabkan Entamoeba hystolitica, lebih sering pada anak usia > 5 tahun.

Disentri basiler

  • Diare mendadak yang disertai darah dan lendir dalam tinja. Pada disentri shigellosis, pada permulaan sakit, bisa terdapat diare encer tanpa darah dalam 6-24 jam pertama, dan setelah 12-72 jam sesudah permulaan sakit, didapatkan darah dan lendir dalam tinja.
  • Panas tinggi (39,5 - 40 derajat Celcius).
  • Muntah-muntah.
  • Anoreksia.
  • Kram atau kejang pada perut dan sakit di anus saat BAB.
  • Kadang-kadang disertai dengan gejala menyerupai ensefalitis dan sepsis (kejang, sakit kepala, letargi, kaku kuduk, halusinasi).
Disentri amoeba
  • Diare disertai darah dan lendir dalam tinja.
  • Frekuensi BAB umumnya lebih sedikit daripada disentri basiler (≤10x/hari)
  • Sakit perut hebat (kolik)
  • Gejala konstitusional biasanya tidak ada (panas hanya ditemukan pada 1/3 kasus).
Dalam Media Litbang Kesehatan (2004) disebutkan, disentri merupakan sindrom atau kumpulan gejala penyakit yang muncul seperti diare berdarah, lendir dalam tinja, dan nyeri yang dipaksakan untuk mengeluarkan tinja. Mudahnya, diare berdarah dapat digunakan sebagai penanda kecurigaan terhadap disentri. Itu sebabnya, disentri dimasukkan ke dalam kelompok bloody diarhea atau diare berdarah.

Penyebab disentri di Indonesia adalah Shigella, Salmonella, Campylobacter jejuni, Escherichia coli, dan Entamoeba histolytica.

Disentri yang berat umumnya disebabkan oleh Shigella dysentery, kadang-kadang dapat juga disebabkan oleh Shigella flexneri, Salmonella, dan Enteroinvasive E.coli (EIEC). WHO menyebutkan bahwa sekitar 15 persen dari seluruh kejadian diare pada anak di bawah usia 5 tahun adalah disentri.

Hasil survei evaluasi di Indonesia pada tahun 1989-1990 juga menunjukkan angka kejadian yang sama. Disentri menjadi penyebab penting penyakit dan kematian yang berkaitan dengan diare.

Karena dampak disentri cukup berat, pada diare yang secara klinis dicurigai sebagai disentri basiler dapat diberikan antibiotika secara empiris untuk kuman Shigella, meskipun belum ada bukti biakan bakteri pada tinja. Tetapi harus diikuti oleh pemantauan klinis, yaitu pengobatan yang diberikan harus memberikan respon pada hari ketiga.

Bila dalam kurun waktu tersebut tidak terlihat perubahan berarti, harus dilakukan evaluasi, apakah disentri tersebut bukan disentri basiler, tetapi disentri amoeba atau kuman tersebut sudah resisten terhadap antibiotik yang diberikan sehingga perlu diganti.

Disentri harus segera diobati. Kalau tidak, akan membahayakan atau kemungkinan dapat terjadi komplikasi. Disentri cukup berat dapat terjadi pada bayi yang tidak mendapatkan asupan ASI dan pada anak dengan gizi yang kurang.

Pencegahan disentri dapat dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, yaitu menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Kebersihan diri dimulai dengan mencuci tangan. Bukan hanya tangan anak, tetapi juga orangtua serta pengasuh. Kuman yang terdapat pada tangan yang sudah menjamah ke berbagai tempat dapat dicegah melalui cuci tangan dengan sabun.

disarikan dari wikipedia dan kompas.

13 Januari 2009

Toge goreng

Aduh, makanan ini susah banget ya dapetinnya maksudnya yang rasanya mantap dan enak . . . Pak Rusli masih penasaran dengan namanya toge goreng yang tidak digoreng nih . . . Ibu juga benar-benar tidak tahu cara masaknya karena memang tidak paham apa saja bahan yang harus diolah he he he he (maklum kokinya masih amatiran nih). Setelah cari di internet dan blog teman, ternyata . . .
Ada blog teman yang membahas tentang toge goreng dan keliatannya sih enak karena gambarnya juga menarik he he he, ehm kapan ya bisa masak sendiri dan rasanya mantap???
Sementara ini cuma ada resepnya aja yang baru di copy paste dari blog teman yang kebetulan suka makan dan sering masak-memasak, maaf ya nyontek he he he.

Ini resepnya nih . . .
Bahan:
▪1 bks mie kuning (pilih mi kuning dipasar, mi yang untuk soto (bukan mi telur kering loh)) ▪2 ons toge ▪1 ptg oncom ▪4 bh tahu kuning ▪sejumput kucai
Kuah:
▪2 bh tomat potong kecil
▪3 sdk mkn tauco kuning
▪150 gr oncom
▪3 bh daun bawang iris memanjang
▪kecap manis
▪minyak untuk menumis
▪jeruk limau


Bumbu halus:
▪3 bh cabai merah
▪8 btr bwg merah
▪garam - gula secukupnya


Cara membuat kuah:
■panaskan minyak lalu tumis bumbu halus hingga harum.
■masukkan tomat - oncom dan daun bawang aduk hingga tercampur rata.
■tuangi air tambahkan kecap manis dan taoco
■masak hingga matang

Penyajian:
▪atur mie - toge - oncom - tahu yang sudah diseduh, sebarkan daun kucai lalu siramkan kuah diatasnya. ▪bisa tambahkan cabe rawit bila suka pedas.

You Raise Me Up

Lirik lagu You Raise Me Up By Josh Groban

When I am down and, oh my soul, so weary;
When troubles come and my heart burdened be;
Then, I am still and wait here in the silence,
Until you come and sit awhile with me.

You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up: To more than I can be.

You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up: To more than I can be.

There is no life - no life without its hunger;
Each restless heart beats so imperfectly;
But when you come and I am filled with wonder,
Sometimes, I think I glimpse eternity.

You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up: To more than I can be.

You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up: To more than I can be.

You raise me up: To more than I can be.

09 Januari 2009

Uh . . . hampir saja . . .

Tadi pagi, Retsi agak rewel. Nggak tahu sebabnya sih . . . ;( Ibu hampir saja ketinggalan bis jemputan karena Retsi minta naik motor ke depan seperti biasa dan minta digendong juga untuk naik ke motornya he he he berat eui . . . ;) Sebelumnya, Retsi juga minta yang lainnya, misalnya minta diambilkan mainannya, minta mimik air putih di botolnya ehm ;), minta ditemenin dulu di kamar, dan yang terakhir minta kami ngga usah kerja aja he he he ;( Kalo yang ini sih agak susah ya . . .
Setelah bak bik buk dengan Retsi (waduh kayak apaan aja ya . . . ), kami berangkat juga dengan hati kebat-kebit karena udah siang bangetttt nih. Bapak lumayan ngebut di jalan agar ibu nggak ketinggalan bis dan bapak nggak telat masuk kantornya. Lumayan deg deg an juga sih naik motornya. Tapi, ibu punya jurus jitu nih. Jika bapak bawa motornya udah terlalu ngebut dan selip sana selip sini, cubit aja bagian tubuh belakangnya he he he (agak sakit juga sih dan sedikit marah karena dicubit boooo), ya supaya agak direm sedikit githu motornya . . . Lumayan manjur nih resepnya . . .
Untung aja, sampai di pangkalan bis jemputan masih jam 7 kurang 15 menit he he he masih sempat beli buryam buat sarapan di kantor . . .

08 Januari 2009

Petra, kota yang pernah hilang



Petra merupakan sebuah situs sejarah di Yordania, terletak di dataran rendah di antara gunung-gunung yang membentuk sayap timur Wadi Araba, lembah besar yang berawal dari Laut Mati sampai Teluk Aqaba.

Petra merupakan kota yang didirikan dengan memahat dinding-dinding batu di Yordania. Petra berasal dari bahasa Yunani yang berarti 'batu'. Petra merupakan simbol teknik dan perlindungan.

Kata ini merujuk pada bangunan kotanya yang terbuat dari batu-batu di Wadi Araba, sebuah lembah bercadas di Yordania. Kota ini didirikan dengan menggali dan mengukir cadas setinggi 40 meter.

Petra merupakan ibukota kerajaan Nabatean. Didirikan pada 9 SM-40 M oleh Raja Aretas IV sebagai kota yang sulit untuk ditembus musuh dan aman dari bencana alam seperti badai pasir.

Suku Nabatean membangun Petra dengan sistem pengairan yang luar biasa rumit. Terdapat terowongan air dan bilik air yang menyalurkan air bersih ke kota, sehingga mencegah banjir mendadak. Mereka juga memiliki teknologi hidrolik untuk mengangkat air.

Terdapat juga sebuah teater yang mampu menampung 4.000 orang. Kini, Istana Makam Hellenistis yang memiliki tinggi 42 meter masih berdiri hingga sekarang di sana.

Sifat khas batita

Bagaimana menghadapi sifat batita yang sering tidak bisa ditebak? Coba, baca artikel berikut yang diambil dari tabloid nakita. Semoga bermanfaat ya . . .

Ada alasan mengapa anak batita mulai menunjukkan sifat egois, agresif, bossy, tapi juga suka menyendiri, dan bahkan pemalu. Semuanya wajar, asalkan tidak menetap dan sampai menghambat pengembangan dirinya. Untuk itulah sifat khas tersebut perlu diketahui dan dipahami agar 'porsinya' tepat dan memberi kesempatan sifat lain yang lebih baik untuk berkembang sebagai karakter anak. Nah, bagaimana mengetahui dan memahami ke-5 sifat tersebut?

1. EGOSENTRIS

Sifat yang umumnya muncul pada usia 15 bulan atau lebih (atau saat anak sudah sadar akan dirinya/self awareness) ini disebabkan oleh ketidakmampuan si kecil dalam melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain. Jadi, semua masalah akan diteropong dari kaca mata dirinya. Lantaran sifat ini juga, anak batita selalu “here and now.”

Bila ingin sesuatu harus didapat saat itu juga alias tidak mau menunggu. Misal, saat ia minta es krim pada malam hari ya dia enggak mau tahu harus mendapatkannya saat itu juga. Contoh lain, si kecil merebut mainan temannya. Meski temannya menangis, ia tidak peduli karena ia “berprinsip” “saya suka, saya mau, maka saya harus dapatkan”

Bila dilihat dari perkembangan kognitif, sifat egois akan menghilang saat usia anak 6 tahun. Karena semakin besar anak, lingkungan sosial akan menuntut anak untuk sadar akan lingkungan, selain sadar diri. Nah, pada saat usianya menginjak 3 tahun, sebenarnya anak sudah mulai sadar akan tuntutan sosial tersebut namun perlu stimulasi dari orangtua.

Egosentris yang dibiarkan terus---dalam arti anak selalu mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa mempertimbangkan adanya aturan-aturan sosial---bisa menetap sampai si kecil beranjak dewasa dan anak akan dicap buruk oleh lingkungan.

Cara menyiasati

Memang masih agak sulit batita diberi pengertian. Meski ada beberapa anak yang sudah bisa. Namun bagaimanapun di usia batita ini orangtua sudah harus menerapkan aturan-aturan disertai pengertian kepada anak bahwa tidak semua keinginan anak harus terpenuhi. Pada contoh kasus es krim di atas, berilah anak pengertian. Misalnya, ”Hari sudah malam, Dek. Mataharinya juga sudah tidur dan tokonya tutup. Saat mataharinya bangun pagi nanti, baru kita bisa beli es krim.” Jadi, yang penting adalah aturan harus diberikan secara konsisten.

2. BOSSY ATAU SUKA PERINTAH

Bossy sebenarnya masih berhubungan dengan sifat egosentris. Sifat ini merupakan kelanjutan dari usia bayi di mana anak sebelumnya selalu diladeni. Saat memasuki usia batita dimana anak sudah tidak lagi bergantung sepenuhnya dengan orang dewasa---dalam arti ia sudah bisa jalan, bicara, dan melakukan apa pun yang diinginkannya---anak merasa memiliki otonomi. Sikap otonom ini sering dibarengi dengan sikap menyuruh orang lain demi mendapatkan apa yang diinginkan. Seperti, “Mbak, ambilin susu” atau “Bukain sepatu.” Kondisi ini bisa “diperparah” bila ada model orang dewasa di sekitar anak yang selalu bersikap bossy, atau memang anak tidak dibiasakan mandiri.

Yang jelas, sifat bossy tidak akan menghilang dengan sendirinya. Karena anak merasa keenakkan. Ngapain capek-capek melakukan sesuatu kalau hanya dengan menyuruh saja, ia mendapatkan apa yang diinginkan? Perilaku suka perintah di usia batita jadi bisa dianggap lucu. Tapi begitu anak sudah lebih besar lagi, percaya deh kalau sifat itu akan menjengkelkan banyak orang sehingga ia akan dijauhi teman-temannya.

Cara menyiasati

- Ajarkan kemandirian (dari hal-hal sederhana) secara bertahap seperti cuci tangan sebelum makan, makan sendiri, buka sepatu dan lain sebagainya.

- Jangan menampilkan sikap bossy pada siapa pun (termasuk pada PRT) karena si kecil akan mudah “terinsiprasi” untuk bertingkah laku yang sama.

- Bila anak sudah kadung bossy dan terbiasa main suruh, coba bangun kemandiriannya dan dorong ia untuk mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Misal, “Dek coba yuk buka sepatunya sendiri. Mama temani.”

3. AGRESIF

Sifat ini sebetulnya sudah tampak sejak usia bayi (terutama pada bayi dengan temperamen sulit). Namun akan semakin kerap kemunculannya di usia batita. Si kecil merasa keinginannya tidak dipahami oleh orang dewasa (berkaitan dengan komunikasi anak batita yang masih terbatas). Agresivitas juga dapat muncul karena kebiasaan. Misal, anak belajar dari pengalamannya jika ia berteriakteriak atau melempar barang maka orang akan memenuhi apa pun yang ia inginkan. Atau kalau ia memukul temannya, maka si teman akan memberikan mainan yang diinginkan kepadanya.

Sifat agresif yang tidak diantisipasi bisa menjadi habituasi dan berlanjut hingga usia dewasa nanti. Di saat usia anak tentunya ia akan dijauhi teman-teman, dicap nakal, sehingga pada akhirnya anak sendiri akan menerima bahwa dirinya “trouble maker” hingga ia besar nanti.

Cara menyiasati

* Saat anak tantrum, peluk atau pegang tangan/badannya. Biarkan ia marah. Setelah kemarahannya reda orangtua bisa tanyakan penyebabnya sesuai dugaan atau perkiraan orangtua. Misal, “Adik pasti sedang marah sekali ya karena ibu tidak beli es krim buat kamu sekarang? Ibu tahu, adik ingin es krim. Tapi hari sudah malam, mataharinya sudah tidur dan tokonya sudah tutup. Kalau mataharinya sudah bangun dan tokonya buka, kita nanti beli sama-sama, ya?” Dalam keadaan emosional, anak batita akan bingung mengatakan apa penyebab rasa kesalnya. Lebih baik, kita yang mendefinisikan perasaannya. Cara ini membuat anak merasa dipahami perasaannya.

* Jangan menanggapi agresivitas anak dengan cara yang agresif pula. Contoh, saat ia memukul temannya, jangan kita malah mencubit anak untuk menghentikan aksinya itu. Benar sih anak tidak akan meneruskan pukulannya, namun anak justru memperoleh gambaran bahwa sikap kasar itu diperbolehkan.

* Beri penjelasan. Memang bukan pekerjaan mudah menjelaskan pada anak batita. Karena hanya sekali diberi tahu tidak akan membuatnya patuh dan melupakan sifat agresifnya. Jangan putus asa, lama-kelamaan jika selalu dijelaskan, anak akan belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu tidak harus dengan sikap agresif.

4. PEMALU

Si kecil kerap bersembunyi di balik kaki ibu/bapak atau terusmenerus memegangi baju kita saat bertemu orang lain? Atau kala ditanya, anak memilih diam dan menundukkan kepala? Kalau memang ya, bisa jadi memang ia pemalu. Namun bisa juga karena ia takut pada orang asing atau tidak terbiasa bertemu dengan orang banyak.

Umumnya, sifat pemalu anak yang karena pembawaan pribadi (diturunkan dari orangtua yang juga pemalu dan tidak suka bersosialisasi) akan terbawa sampai dewasa. Meski tak ada dampak buruk pada anak, namun bisa membuat anak kehilangan peluang dalam dalam berbagai hal, dibandingkan dengan anak yang aktif dan berani. Sifat pemalu juga membuat anak sulit mengembangkan diri dan beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Cara menyiasati

Untuk menghadapi anak pemalu sebaiknya orangtua sering membawanya untuk bersosialisasi. Latih sejak dini dengan memasukkan anak pada lingkungan sosial dimana banyak anak bermain seperti di taman bermain. Awalnya mungkin anak merasa takut, jadi temani sementara waktu.

Setelah beberapa lama biasanya anak bisa ditinggal dan berbaur bersama anak-anak lainnya. Bisa juga anak diajak ke tempat-tempat pertemuan atau ketika orangtua bertemu dengan kenalan di jalan, anak bisa diminta untuk mengenalkan dirinya atau menyapanya. Misal, “Sayang, kenalin nih. Ini tante Diba. Ayo salam. Beri tahu siapa nama Adek.”

5. PENYENDIRI

Sifat penyendiri pada usia batita---selain dikarenakan perkembangan kognitif anak dalam melihat sesuatu masih dari sudut pandangnya sendiri---perkembangan sosialnya pun masih belum berkembang baik. Anak baru mulai sadar akan adanya tuntutan dari lingkungan sosial di usia 3 tahun ke atas. Lantaran itulah, saat bermain, anak tampak soliter (lebih suka bermain sendiri) meski ada teman di sampingnya. Sifat penyendiri akan menghilang setelah usia batita. Apalagi jika anak sudah berelasi dengan teman-temannya. Namun pada beberapa anak memang sifat penyendiri ini bisa menjadi kebiasaan yang terbawa pula sampai nantinya.

Soal dampak, sebenarnya sifat penyendiri tak jadi masalah. Bahkan hingga usia dewasa pun sebetulnya sifat ini terkadang diperlukan. Karena adakalanya manusia perlu sebagian waktu untuk menyendiri dan sebagian waktunya lagi bersosialisasi. Hanya kalau sifat penyendiri si batita sudah keterlaluan, misal, dia lebih memilih menyendiri sampai 24 jam terus-menerus, ya tidak boleh dibiarkan. Sebab anak tetap perlu beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan sosial yang ada.

Cara menyiasati

Sama seperti halnya anak yang pemalu, orangtua perlu mengajak anak dalam kegiatan bersama dan bersosialisasi. Mulailah dari lingkungan orang dekat, seperti taman bermain dekat rumah yang banyak dikunjungi anak-anak tetangga, dan acara keluarga agar anak mengenal sepupu dari keluarga ayah dan ibunya. Setiap saat, ajaklah anak berkomunikasi dan jangan lupa sediakan waktu untuk mendengarkan dan menanggapi setiap ujarannya. Semakin ia percaya bahwa kita ada sebagai pendengarnya yang sabar, ia akan semakin berani bicara dan lebih bersikap terbuka.


Source : NAKITA
Dedeh Kurniasih

Narasumber:
L.S. Yulia Savitri, M.Psi.,
pengajar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia